Selasa, 17 Juni 2014

Bentuk - Bentuk Utama dalam Terapi

 Psikoterapi Suportif
Merupakan suatu bentuk terapi alternatif yang mempunyai tujuan untuk menolong pasien beradaptasi dengan baik terhadap suatu masalah yang dihadapi dan untuk mendapatkan suatu kenyamanan hidup terhadap gangguan psikisnya. Terapi suportif menawarkan dukungan kepada pasien oleh seorang tokoh yang berkuasa selama periode penyakit, kekacauan atau dekompensasi sementara. Pendekatan ini juga memiliki tujuan untuk memulihkan dan memperkuat pertahanan pasien dan mengintegrasikan kapasitas yang telah terganggu. Cara ini memberikan suatu periode penerimaan dan ketergantungan bagi pasien yang membutuhkan bantuan untuk menghadapi rasa bersalah, malu dan kecemasan dan dalam menghadapi frustasi atau tekanan eksternal yang mungkin terlalu kuat untuk dihadapi.
Tujuan:
·      Mendukung fungsi-fungsi ego, atau memperkuat mekanisme defensi yang ada
·      Memperluas mekanisme pengendalian yang dimiliki dengan yang baru dan lebih baik.
·      Perbaikan ke suatu keadaan keseimbangan yang lebih adaptif.
·      Menaikkan fungsi psikologi dan social
·      Menyokong harga dirinya dan keyakina dirinya sebanyak mungkin
     Cara atau pendekatan: bimbingan, reassurance, katarsis emosional, hipnosis, desensitisasi, eksternalisasi minat, manipulasi lingkungan, terapi kelompok.
     Macam-macam teknik terapi suportif:
a.    Guidance/Bimbingan, yakni prosedur pemberian pertolongan secara aktif dengan cara memberikan fakta dan interpretasi' dalam bidang pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial dan bidang-bidang Kesehatan
b.    Manipulasi lingkungan, yakni usaha untuk menyelesaikan problem-problem emosional klien dengan cara menghilangkan atau mengubah unsur-unsur lingkungan yang tidak menguntungkan
c.    Eksternalisasi perhatian, yakni usaha untuk mengalihkan perhatian klien yang mengalami keeeinasan atau depresi dengan jalan memberikan dorongan agar klien dapat memulai lagi aktivitas yang pernah disenanginya ataupun mengembangkan kesenangan baru untuk mengisi waktu senggangnya. Jenis-jenis eksternalisasi perhatian antara lain terapi kerja, terapi musik,terapi gerak dan tari, terapi syair, terapi social
d.   Sugesti-prestis, yakni usaha terapis untuk mensugesti klien, yakni memberikan pengaruh psikis tanpa daya kritik
e.    Meyakinkan kembali (reassurance), terapi ini biasanya menyertai pada setiap terapi. Klien yang merasa dieengkam ketakutan yang irasional perlu ditenangkan dan dihibur.Terapis perlu mendiskusikan ketakutan-ketakutan tersebut secara terbuka dengan kliennya untuk menjelaskan bahwa ketakutan itu tidak rasional atau tidak berdasar
f.     Dorongan dan paksaan, yakni dengan memberikan ren-'ara' dan punishment untuk menstimulasi perilaku klien sesuai yang diharapkan. Di antaranya dengan cara klien diberi tugas untuk melawan impuls-impuls yang menimbulkan neurotik, berusaha menghilangkan atau mengurangi intcnsitasnya sampai di bawah titik kritis
g.    Persuasi, yakni mendasari diri pada anggapan bahwa dalam diri klien mempunyai sesuatu kekuatan untuk proses emosinya yang patologis dengan kekuatan dan kemampuan ataupun dengan menggunakan common sensenya sendiri, sebab pada umumnya orang yang menderita gangguan jiwa dalam keadaan intelek tertutup emosi
h.    Pengakuan dan penyaluran, yakni dengan cara mengeluarkan isi hati kepada orang lain. Pendekatan ini untuk mengurangi tekanan yang ada pada klien, sebab dengan adanya pengakuan dan penyaluran maka segala rasa tertekan yang mengganjal dapat dilepaskan (katarsis)
i.      Terapi kelompok pemberi inspirasi, yakni terapi kelompok yang terdiri dari klien yang memiliki problem sejenis
Psikoterapi Reedukatif
Untuk mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya lebih banyak di alam sadar, dengan usaha berencana untuk menyesuaikan diri, memodifikasi tujuan dan membangkitkan serta mempergunakan potensi-potensi kreatif yang ada.
Tujuan:
·      Mengubah pola perilaku dengan meniadakan kebiasaan (habits) tertentu dan membentuk kebiasaan yang lebih menguntungkan.
Cara-cara psikoterapi reduktif antara lain :
a.       terapi hubungan antar manusia (relationship therapy)
b.      terapi sikap (attitude therapy)
c.       terapi wawancara (interview therapy)
d.      analisa dan sinthesa yang distributif (terapi psikobiologik Adolfmeyer)
e.       konseling terapetik
f.       terapi case work
g.      reconditioning
h.      terapi kelompok yang reduktif
i.        terapi somatic 2

Psikoterapi Rekonstruktif
Terapi Rekonstruktif yakni menyelami alam tak sadar melalui teknik seperti asosiasi bebas, interpretasi mimpi, analisa daripada transfersi. Terapi ini untuk mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya di alam tak sadar, dengan usaha untuk mendapatkan perubahan yang luar daripada struktur kepribadian dan pengluasan pertumbuhan kepribadian dengan pengembangan potensi penyesuaian diri yang baru.
Tujuan :
·      Dicapainya tilikan (insight) akan konflik-konflik nirsadar, dengan usaha untuk mencapai perubahan luas struktur kepribadian seseorang.
·      Perombakan radikal daripada corak kepribadian hingga tak hanya tercapai suatu penyesuaian diri yang lebih efisien, akan tetapi juga suatu maturasi daripada perkembangan emosional dengan dilahirkannya potensi adaptif baru.
Cara atau pendekatan: Psikoanalisis klasik dan Neo-Freudian (Adler, Jung, Sullivan, Horney, Reich, Fromm, Kohut, dll.), psikoterapi berorientasi psikoanalitik atau dinamik.

Sumber :
 

Perbedaan Konseling dengan Psikoterapi



Konseling
Konseling identik dengan pemberian bantuan, penyuluhan dan hubungan timbal balik antara konselor (yang memberikan konseling) dan konseli (yang membutuhkan bantuan/klien). Menurut Patterson, konseling memiliki ciri khas yang merupakan hakekat konseling. Ciri - ciri itu adalah :
1.      Konseling berurusan dengan upaya mempengaruhi perubahan tingkah laku secara sadar pada pihak klien (klien mau mengubahnya dan mencari bantuan konselor bagi perubahan ini).
2.      Tujuan konseling adalah mendapatkan kondisi-kondisi yang memudahkan perubahan secara sadar (kondisi-kondisi dimaksud berupa hak-hak individual untuk membuat pilihan, untuk mandiri dan “berswatantra”, autonomous).
3.      Sebagaimana dalam sebuah hubungan, terdapat pembatasan-pembatasan tertentu bagi konseli (pembatasan-pembatasan ditentukan oleh tujuan-tujuan konseling yang dipengaruhi oleh nilai-nilai dan falsafah konselor).
4.      Kondisi-kondisi yang memudahkan perubahan tingkahlaku diperoleh melalui wawancara-wawancara (tidak seluruh konseling adalah wawancara, tetapi konseling selalu melibatkan wawancara).
5.      Mendengarkan (dengan penuh perhatian) berlangsung dalam konseling tapi tidak seluruh konseling melulu mendengarkan.
6.      Konselor memahami kliennya (perbedaan antara cara orang-orang lain dengan cara konselor dalam melakukan pemahaman lebih bersifat kualitatif ketimbang kuantitatif dan pemahaman belaka tidak menjadi pembeda antara situasi konseling dengan situasi lain).
7.      Keberadaan konseling bersifat pribadi (privacy) dan diskusi atau pembicaraan bersifat rahasia, dasarnya bersifat rahasia (confidential).

Psikoterapi
Psikoterapi adalah suatu interaksi sistematis antara klien dan terapis yang menggunakan prinsip-psinsip psikologis untuk membantu menghasilkan perubahan dalam tingkah laku, pikiran dan perasaan klien supaya membantu klien mengatasi tingkah laku abnormal dan memecahkan masalah-masalah dalam hidup atau berkembang sebagai seorang individu.

Ciri-ciri dari defenisi mengenai psikoterapi ini, seperti penjelasan dibawah ini:

Interaksi Sistematis
Psikoterapi adalah suatu proses yang menggunakan suatu interaksi antara kline dan terapis. Kata sistematis di sini berarti terapis menyusun interaksi-interaksi dengan suatu rencana dan tujuan khusus yang menggambarkan segi pandangan teoritis terapis.

Prinsip-prinsip Psikologis
Psikoterapis menggunakan prinsip-prinsip penelitian, dan teori-teori psikologis serta menyusun interaksi teraupetik.

Tingkah Laku, Pikiran dan Perasaan
Psikoterapi memusatkan perhatian untuk membantu pasien mengadakan perubahan-perubahan behavioral, kognitif dan emosional serta membantunya supaya menjalani kehidupan yang lebih penuh perasaan. Psikoterapi mungkin diarahkan pada salah satu atau semua ciri dari fungsi psikologis ini.

Persamaan dan Perbedaan Konseling dan Psikoterapi
1.      PesamaanKonseling dan Psikoterapi
Terdapat banyak persamaan antara konseling dan psikoterapi sehingga:
a.    konseling dan psikoterapi tidak dapat dibedakan secara jelas,
b.    konselor sering mempraktekkan apa yang oleh psikoterapis dipandang sebagai psikoterapi,
c.    Psikoterapis sering mempraktekkan apa yang oleh konselor dipandang sebagai konseling.
2.      Perbedaan antara konseling dan psikoterapi adalah:
·      Konseling
1.      Berpusat pandang masa kini dan masa yang akan datang melihat dunia klien.
2.    klien tidak dianggap sakit mental dan hubungan antara konselor dan klien itu sebagai teman yaitu mereka bersama-sama melakukan usaha untuk tujuan-tujuan tertentu, terutama bagi orang yang ditangani tersebut.
3.      konselor mempunyai nilai-nilai dan sebagainya, tetapi tidak akan memaksakannya kepada individu yang dibantunya konseling berpusat pada pengubahan tingkah laku, teknik-teknik yag dipakai lebih bersifat manusiawi.
4.      konselor bekerja dengan individu yang normal yang sedang mengalami masalah.
5.      Konseling pada umumnya menangani orang normal
6.      Konseling lebih edukatif, suportif, berorientasi sadar dan berjangka pendek
7.      Konseling lebih terstruktur dan terarah pada tujuan yang terbatas dan konkret
·      Psikoterapi
1.  Berpusat pandang pada masa yang lalu-melihat masa kini individu,
2.  klien dianggap sakit mental.
3.  klien dianggap sebagai orang sakit dan ahli psikoterapi (terapis) tidak akan pernah    meminta orang yang ditolongnya itu untuk membantu merumuskan tujuan-tujuan,
4.  Terapis berusaha memaksakan nilai-nilai dan sebagainya itu kepada orang yang ditolongnya.
5.  Psikoterapis berpusat pada usaha pengobatan teknik-teknik yang dipakai adalah yang telah diresepkan,
6.  Terapi bekerja dengan “dunia dalam” dari kehidupan individu yang sedang mengalami masalah berat, psikologi dalam memegang peranan.
7.  Psikoterapi terutama menangani orang yang mengalami ganguan psikologis.
8.  Psikoterapi lebih rekonstruktif, konfrontatif, berorientasi tak sadar, dan berjangka panjang.
   9.  Psikoterapi sengaja dibuat lebih ambigu dan memiliki tujuan yang berubah-ubah dan berkembang terus



Sumber :

Senin, 14 April 2014

Pengertian Psikoterapi

Psikoterapi adalah usaha penyembuhan untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan dan perilaku. Psikoterapi (Psychotherapy) berasal dari dua kata, yaitu "Psyche" yang artinya jiwa, pikiran atau mental dan "Therapy" yang artinya penyembuhan, pengobatan atau perawatan. Oleh karena itu, psikoterapi disebut juga dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran.

Psikoterapi adalah proses difokuskan untuk membantu Anda menyembuhkan dan konstruktif belajar lebih banyak bagaimana cara untuk menangani masalah atau isu-isu dalam kehidupan Anda. Hal ini juga dapat menjadi proses yang mendukung ketika akan melalui periode yang sulit atau stres meningkat, seperti memulai karier baru atau akan mengalami perceraian.

Umumnya psikoterapi dianjurkan bila seseorang bergulat dengan kehidupan, masalah hubungan atau kerja atau masalah kesehatan mental tertentu, dan isu-isu atau masalah yang menyebabkan banyak individu yang besar rasa sakit atau marah selama lebih dari beberapa hari. Ada pengecualian untuk aturan umum, tetapi sebagian besar, tidak ada salahnya untuk pergi ke terapi bahkan jika Anda tidak sepenuhnya yakin Anda akan mendapat manfaat dari itu. Jutaan orang mengunjungi psikoterapis setiap tahun, dan sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa orang yang melakukannya manfaat dari interaksi. Kebanyakan terapis juga akan jujur dengan Anda jika mereka yakin Anda tidak akan mendapatkan keuntungan atau pendapat mereka, tidak perlu psikoterapi.

Orang yang melakukan psikoterapi disebut Psikoterapis (Psychotherapist). Seorang psikoterapis bisa dari kalangan dokter, psikolog atau orang dari latar belakang apa saja yang mendalami ilmu psikologi dan mampu melakukan psikoterapi.

Psikoterapi merupakan proses interaksi formal antara dua pihak atau lebih, yaitu antara klien dengan psikoterapis yang bertujuan memperbaiki keadaan yang dikeluhkan klien. Seorang psikoterapis dengan pengetahuan dan ketrampilan psikologisnya akan membantu klien mengatasi keluhan secara profesional dan legal.

Ada tiga ciri utama psikoterapi, yaitu:
  1. Dari segi proses :  berupa interaksi antara dua pihak, formal, profesional, legal dan menganut kode etik psikoterapi.
  2. Dari segi tujuan : untuk mengubah kondisi psikologis seseorang, mengatasi masalah psikologis atau meningkatkan potensi psikologis yang sudah ada.
  3. Dari segi tindakan: seorang psikoterapis melakukan tindakan terapi berdasarkan ilmu psikologi modern yang sudah teruji efektivitasnya.

Psikoterapi didasarkan pada fakta bahwa aspek-aspek mental manusia seperti cara berpikir, proses emosi, persepsi, believe system, kebiasaan dan pola perilaku bisa diubah dengan pendekatan psikologis. Tujuan psikoterapi antara lain:
  • Menghapus, mengubah atau mengurangi gejala gangguan psikologis.
  • Mengatasi pola perilaku yang terganggu.
  • Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian yang positif.
  • Memperkuat motivasi klien untuk melakukan hal yang benar.
  • Menghilangkan atau mengurangi tekanan emosional.
  • Mengembangkan potensi klien.
  • Mengubah kebiasaan menjadi lebih baik.
  • Memodifikasi struktur kognisi (pola pikiran).
  • Memperoleh pengetahuan tentang diri / pemahaman diri.
  • Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan interaksi sosial.
  • Meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan.
  • Membantu penyembuhan penyakit fisik.
  • Meningkatkan kesadaran diri.
  • Membangun kemandirian dan ketegaran untuk menghadapi masalah.
  • Penyesuaian lingkungan sosial demi tercapai perubahan dan masih banyak lagi.

Psikoterapi berbeda dengan pengobatan tradisional yang sering memandang gangguan psikologis sebagai gangguan karena sihir, kesurupan jin atau karena roh jahat. Anggapan-anggapan yang kurang tepat tersebut karena sebagian masyarakat terlalu mempercayai tahayul dan kurang wawasan ilmiahnya.

Dalam psikoterapi, gangguan psikologis diidentifikasi secara ilmiah dengan standar tertentu. Kemudian dilakukan proses psikoterapi menggunakan cara-cara modern yang terbukti berhasil mengatasi hambatan psikologis. Dalam psikoterapi tidak ada hal-hal yang bersifat mistik. Klien psikoterapi juga tidak diberi obat, karena yang sakit adalah jiwanya, bukan fisiknya.

Psikoterapi bukan untuk menangani orang gila (orang yang rusak otaknya).  Justru psikoterapi  hanya digunakan untuk menangani orang waras yang sedang mengalami masalah psikologis, atau untuk membantu orang normal yang ingin meningkatkan kemampuan pikirannya. Sedangkan penanganan orang gila adalah urusan Rumah Sakit Jiwa (RSJ).

Dalam sesi Psikoterapi, Anda akan diajak membahas dan menganalisa hambatan psikologis yang ada dalam diri Anda, kemudian mencari pemecahannya dengan cara menerapkan metode psikoterapi yang paling cocok. Psikoterapi hanya bisa dilakukan apabila Anda ingin disembuhkan atau ingin berubah. Psikoterapi tidak bisa dipaksakan kepada orang yang tidak mau dibantu.

Ada banyak metode psikoterapi yang bisa diterapkan, diantaranya adalah Psychoanalysis, Gestalt Therapy, Cognitive Behavioural Therapy, Behaviour Therapy, Body-Oriented Psychotherapy, Expressive Therapy, Interpersonal Psychotherapy, Narrative Therapy, Conditioning, Mental Imagery, Neurolinguistic Programming, Laughter Therapy, Self Programming, Spiritual Therapy, Transpersonal Psychotherapy, Relaxation Therapy, Forgiveness Therapy, Trance Psychotherapy,  Neurofeedback dan masih banyak lagi. Psikoterapis yang memahami masalah Anda akan memberikan metode terapi yang paling tepat bagi Anda.

Interaksi antara Anda dan psikoterapis akan seperti persahabatan. Seorang psikoterapi tidak bisa membantu dengan maksimal apabila Anda tidak mau terbuka mengenai masalah Anda. Oleh karena itu, sebelum Anda  menemui psikoterapis, Anda harus membuka diri untuk mendapatkan sahabat baru.

Sumber :
http://www.psikoterapis.com/?en_apa-itu-psikoterapi-,6
http://belajarpsikologi.com/sebuah-pengantar-psikoterapi/

Minggu, 05 Januari 2014

Biografi singkat



Biografi??

Huft, paling sulit untuk menulis mengenai kisah perjalanan hidup sendiri. Tapi karena ini harus ditulis, maka saya akan mencobanya.

Gw gak tau kapan gw mulai merasakan idup sebagai manusia seutuhnya, yang gw inget mengenai kenapa gw bisa muncul didunia itu Cuma teringat pohon mangga dirumah tetanga gw yang sekarang udah ditebang, just it. Sisa gw tiba2 muncul sebagai anak laki2 kecil yang senang bermain dan hidup didalam keluarga ini.

Waktu kecil merupakan masa yang paling indah, tanpa beban dan hanya melakukan yang membuat kita senang saja, yaitu bermain dan bercanda. Engga lepas dari itu semua, masa kecil itu merupakan masa kecil yang paling membuat kita menjadi makhluk ternakal yang dikesali orang para orang tua. Masa Taman Kanak-Kanak(TK), dimana gw bisa ketemu teman diluar lingkungan nyaman gw yang sama sekali engga gw kenal sebelumnya. Disitu gw mengenal satu sama lain dan mengenal juga yang namanya permusuhan dan pertemanan. Menjadi anak nakal ala gw waktu itu adalah bermain di saluran pembuangan alias kalo kita kenal sebagai got. Gw sama temen2 rumah gw mencari ikan sepat buat di pelihara, karena dulu got masih termasuk bersih daripada sekarang, kalo sekarang mungkin udah engga ya guys.

Selain itu, TK merupakan masa dimana gw ditinggal sendirian disekolah (istilahnya ya), trus gw bercengkrama dengan teman yang sama sekali engga gw kenal (pada awalnya) tetapi dengan berjalannya waktu, gw bisa berteman dengan mereka semua. Gw merasa bersyukur banget karena gw bukan masuk golongan freak (kalo istilah jaman sekarang ya).

Masuk ke masa Sekolah Dasar(SD), disini gw gak terlalu banyak memori ingatan pada masa ini, tapi disini gw mengalami pengulangan kelas. Ketika berada pada kelas 1, nyokap gw memindahkan gw dari SD A (SD negeri biasa, gak ada pendidikan agama nasraninya) ke SD B (disini berbasis yang sesuai dengan iman gw, yaitu Katolik). Gw gak paham kala itu, tetapi pas kesininya gw memahaminya dan bertanya kenapa gw harus dipindahkan dan mengulang kembali kelas 1?? Gw merasa tersusul oleh teman sepermainan gw waktu itu yang udah jadi senior gw (jatohnya).

Waktu Sekolah Menengah Pertama (SMP), disini gw tetep di lingkungan sekolah yang sama dengan SD gw karena sama masih satu yayasan (FYI : sekolah ini gak ada kantin yang ada kursinya yg kaya di TV). Istilah “genk” adalah hal baru yang gw pelajari dimasa SMP ini dang w menjadi salah satu dari genk yang ada di sekolah gw waktu itu. Genk yang paling Berjaya adalahgenk anak – anak basket yang maenannya basket mulu tiap pulang sekolah (apa serunya coba?!). Nama lainnnya adalah “abas” alias anak basket, yang orang2nya merupakan anak2 high class, mainannya nongkrong dan udah bisa bawa mobil. Masih mending kalo Cuma pamer kekayaan, ini pada kenyataannya adalah pada so to the ngong anak2nya, berkata seperti tidak memiliki nurani (gw bisa dibilang salah satu korbannya). Semenjak saat itu, gw gak terlalu suka dengan permainan basket, mending cari makanan buat dimakan. Disini gw pertama kalinya mengenal seseorang dan “menyukainya” (jadi belom pake cinta ya guys)

Sekolah Menengah Atas (SMA)! Huaw ini paling seru yang pernah gw alami dari tingkatan pendidikan yang harus mengenakan seragam. Disini baru gw merasakan gejolak dara muda, dan gw merasakana yang namanya falling in love (eaeaeaea, curhat dikit) menyatakan sayang kepada seorang wanita dan tetap merasakan rasa sayang itu sampe hari ini (tapi kalo ketemu doang). Passion gw saat itu adalah menjadi seorang pengibar bendera pusaka di walikota Jakarta timur tetapi semua itu gagal dan gw menutup semua lembaran itu dengan emosi (gak pake meluap – luap). Selain itu, pengalaman mengendarai motor bebek, motor matic sammpeee motor kopling semua terjadi disini, keren abisss!! Untuk penutup masa ini adalah dimana gw dan temen2 satu angkatan gw menjadi seorang buronan untuk menemukan sebuah kunci jawaban (gak secara harafiah) dalam menghadapi UN.

Masa kuliah?? Gw rasa masih akan bersambung..